"Buat Apa?"

Di laluan, seutas benang tipis tersambung.

Dulunya tebal dan menggelung, tetapi kini canggung.

Mungkin aku terlalu berdelusi,

Mungkin aku mengharap yang tak pasti.


Atmaku bukan propertimu,

Apakala aku tewas, dikau takkan peduli.

Janganlah begitu, memori tawa kecil saja tak ingat.

Karena memori paling pagan bukanlah saat kau berenjana,

Tetapi masa-masa dimana dirimu digetok durjana.


Ingatkah engkau saat aku memeram analogi malam?

Dimana sedu kuatmu datang mencengkam.

Tentunya kau ingat, kausa itulah yang selalu mengikat.


Tidaklah pula mengherankan jika sekarang kau menyambat.

Kilas dari kebahagiaan hanyalah sekatan yang menghambat,

Menghambat gulam redup, memberi ilusi sesaat.

Jadi bolehlah kanda bertanya sekarang,

"Semua senyum itu buat apa?"


Joni Devoit, 12 Juni 2021

Komentar

Postingan Populer