"Kubra Hayat Dari Seorang Pemuda/Keluhan Kami"
Namaku Fataa Ghabiun,
Aku berusia dua puluh empat tahun.
Bukan siapa-siapa, cuma separa dari yuvenil milennia.
Darmaku adalah mendebil pandir sebagai takdir.
Wenang mutlakku adalah bertarak kesal dalam sesal.
Aku seyogianya dijadikan kacung abadi para pengampu,
Pengampu munafik yang terbenam dalam sikap narsistik.
Pengampu bongkok dan renta yang berisik.
Kaum penggali bumi yang banal dan berfragran sentimental.
Juwita pandang baya mereka,
Dan aku tersekat di purata avesta yang menjadi dogma.
Sadarlah bahwa aku bukan kapirta amerta.
Jadi dalam ambang malang, kuuntai tali tambang di leher.
Sedari siang hingga petang, kupijak kakiku pada nestapa kursi gerhana.
Meniti memperseimbang agar tak jatuh, tetapi tak mampu.
Pudar senyum di bibir, getir menghantam dengan duka.
Rengsa menyelinap dalam luka.
"Selamat tinggal, dunia."
Joni Devoit, 6 Juni 2021
Komentar
Posting Komentar